‘Begitu istimewa’ itu lah kata-kata yang terlintas ketika saya menghabiskan masa liburan ke jogja. Tidak salah jika provinsi ini dinamakan Daerah Istimewa Yogyakarta. Satu-satunya provinsi yang di pimpin oleh Sultan, sekarang adalah Sultan Hamengkubuwono X, satu-satunya sultan yang memiliki istri satu, begitu kata guide pengunjung kraton, ketika saya berkeliling kraton.
Di kraton terdapat galeri foto sultan I hingga
X, gambar kereta yang digunakan oleh keluarga sultan, serta pakaian adat
keluarga sultan dan patung-patung yang menggambarkan kegiatan pernikahan dan
khitanan keluarga sultan.
Tidak jauh dari kraton, terletak malioboro, yang katanya merupakan
pusat belanja murah di jogja, khususnya batik. Setelah menelusuri sepanjang
jalan malioboro memang yang lebih dominan disana adalah penjual batik, mulai
dari toko hingga pedagang di pinggir jalan. Sepanjang mata memandang selain
orang berlalu lalang melihat batik serta pernak-pernik khas jogja, disana juga
terdapat jalur yang hanya khusus dilewati oleh kendaraan berupa becak dan
andong. Ini sangat menarik bagi saya, karena selain bus trans jogja,
becak/andong ini merupakan alat transportasi yang sangat di minati. Saya pun
mencoba berkeliling dengan menggunakan becak saat malam hari dan ini sangat seru sekali.
Selain di tepi jalan yang menjadi pusat perbelanjaan, di
belakang kawasan malioboro banyak terdapat tempat penginapan seperti hotel dan
losmen, selain itu café-café bergaya internasional. Ini merupakan daerah yang
paling menarik bagi saya ketika saya mengunjungi kota istimewa ini. Ketika kita
memasuki gang utama dari depan malioboro, sepanjang mata memandang merupakan
hotel-hotel berbintang.
Kemudian saya menelusuri gang yang lebih kecil lagi yang
tidak boleh dilalui kendaraan (hanya untuk pejalan kaki) semuanya merupakan
tempat penginapan, mulai dari hotel berbintang hingga kelas melati, bahkan
rumah-rumah warga pun seperti di sulap menjadi losmen (tempat penginapan). Dan banyak
sekali saya melihat turis-turis internasional yang menginap disana, dan café-café
di gang ini lebih dominan dikunjungi oleh turis internasional.
Ini merupakan salah satu gang di dekat kawasan malioboro,
dari tulisannya gang ini sepertinya diistilah kan sebagai international village, saya tidak tau dari mana asal dinamakan
seperti itu, tapi saya meduga itu karena banyaknya turis internasional yang
nginap disana.
Saya juga tertarik dengan bus trans jogja. Karena untuk
orang yang baru pertama kali datang dan jalan-jalan di jogja, transportasi ini
sangat membantu. Sepertinya bus ini di design untuk melewati jalur-jalur
wisata, seperti candi prambanan, museum affandi, ugm, uin sunan kalijaga, Bandara
Internasional Aji Sutjipto,terminal giwangan, stasiun tugu, malioboro, (itu
yang saya ingat berdasarkan pengalaman saya kesana) merupakan jalur yang
dilewati bus ini, harganya juga relative sangat murah 3 ribu rupiah dekat/jauh.
Yang lebih menariknya lagi pegawai bus disediakan khusus untuk memberikan
informasi tujuan jalur bus, misalnya untuk yang berhenti di halte, pegawai
tersebut akan memberikan informasi tempat-tempat kunjungan terdekat dari halte
tersebut seperti parangtritis, jadi penumpang yang tujuannya ingin ke
parangtritis bisa turun di halte tersebut, walaupun jaraknya tidak dekat, tpi
daerah halte tersebut merupakan jalur angkutan umum untuk ke parangtritis, yang
harus naik bus lagi sekitar 2 jam dengan harga 15ribu. Untuk para pelancong
yang baru pertama kali menginjakkan kaki di jogja dan ingin berjalan-jalan ke
kawasan wisata daerah jogja sangat membantu sekali dan tidak ribet, karena bisa
naik trans jogja dan informasi lebih lanjut dapat ditanyakan,hhe.
Selain trans jogja, angkutan lain yang dapat digunakan yaitu becak/andong untuk jalur-jalur yang tidak dilalui bus, seperti dari malioboro jika ingin ke kraton (kawasan alun-alun utara) bisa naik becak/andong, harganya tergantung seberapa tega kita menawar harga pada bapak tukang becak (karena saya ketika pergi kesana pas hari libur akhir tahun, yang biasanya 3 ribu perorang jadi 5 ribu, karena saya bertiga dengan teman saya jadi 15 ribu sekali naik becak). Tapi uniknya bapak tukang becak ini akan menawarkan kita untuk berkeliling ke tempat penjualan kaos dagadu (kata bapaknya gitu, padahal kaos-kaos oleh2 biasa, bukan dagadu merknya, hho) dan ke toko bakpia. Jadi sebelum ke malioboro bapak tukang becak tersebut mengajak kami keliling ke toko kaos dan toko bakpia, kalau gak salah masih deket alun-alun gitu kawasannya, masuk gang dan disana memang banyak sekali terliat toko kaos oleh2 dan bakpia khas jogja. Dan katanya (tapi bukan dari bapak becaknya), bapak tukang becak ini mendapat fee dari toko yang ditawarkannya, jika kita membeli produk toko ini (sekitar 3 ribu rupiah). Disini juga menarik bagi saya, dan lagi-lagi menurut saya kota ini memang di design sebagai kota wisata, karena untuk para pendatang yang berlibur ke jogja yang tidak mengetahui pusat kaos dan bakpia bisa terbantu oleh jasa bapak becak ini, selain juga memberikannya keuntungan juga.
Selain trans jogja, angkutan lain yang dapat digunakan yaitu becak/andong untuk jalur-jalur yang tidak dilalui bus, seperti dari malioboro jika ingin ke kraton (kawasan alun-alun utara) bisa naik becak/andong, harganya tergantung seberapa tega kita menawar harga pada bapak tukang becak (karena saya ketika pergi kesana pas hari libur akhir tahun, yang biasanya 3 ribu perorang jadi 5 ribu, karena saya bertiga dengan teman saya jadi 15 ribu sekali naik becak). Tapi uniknya bapak tukang becak ini akan menawarkan kita untuk berkeliling ke tempat penjualan kaos dagadu (kata bapaknya gitu, padahal kaos-kaos oleh2 biasa, bukan dagadu merknya, hho) dan ke toko bakpia. Jadi sebelum ke malioboro bapak tukang becak tersebut mengajak kami keliling ke toko kaos dan toko bakpia, kalau gak salah masih deket alun-alun gitu kawasannya, masuk gang dan disana memang banyak sekali terliat toko kaos oleh2 dan bakpia khas jogja. Dan katanya (tapi bukan dari bapak becaknya), bapak tukang becak ini mendapat fee dari toko yang ditawarkannya, jika kita membeli produk toko ini (sekitar 3 ribu rupiah). Disini juga menarik bagi saya, dan lagi-lagi menurut saya kota ini memang di design sebagai kota wisata, karena untuk para pendatang yang berlibur ke jogja yang tidak mengetahui pusat kaos dan bakpia bisa terbantu oleh jasa bapak becak ini, selain juga memberikannya keuntungan juga.
Dan untuk pertama kalinya pengalaman saya dan teman-teman
saya (Nurul dan Cisut) ke kota ini, kami cukup banyak menghabiskan 2 hari 2
malam kami di jogja dengan mengelilingi kawasan wisata daerah istimewa ini.^^
Hari pertama dihabiskan untuk perjalanan ke kawasan borobudur yang memakan waktu sekitar 3 jam dari jogja.
Hari kedua berkeliling jogja...alun-alun, museum affandi, taman pintar, belanja di malioboro,dllHari pertama dihabiskan untuk perjalanan ke kawasan borobudur yang memakan waktu sekitar 3 jam dari jogja.
hari ketiga ke UGM, sunmor, pantai parangtritis dan lanjut pulang ke Bandung ^^
Sekian perjalanan istimewa kami ;)





